Renungan Harian GKE ini menjadi berkat untuk Jemaat GKE dimana saja.

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 6 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 7 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 8 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 18 Juni 2014

Tidak Usah Banyak-Banyak, Sedikit Saja Tapi Ada Tuhan Bersama Kita

Rabu, 18 Juni 2014
TIDAK USAH BANYAK-BANYAK, SEDIKIT SAJA
TAPI ADA TUHAN BERSAMA KITA
Hakim-Hakim 7 : 1- 8 : 3
Oleh : Pdt. Geritona Sakti, S.Th.

“7:2 Berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: “Terlalu banyak rakyat yang bersama-sama dengan engkau itu dari pada yang Kuhendaki untuk menyerahkan orang Midian ke dalam tangan mereka, jangan-jangan orang Israel memegah-megahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku.”
Syallom, ketika Gideon akan menyerang Kaum Midian, ternyata bagi Tuhan prajurit Israel untuk berperang melawan bangsa itu, masih terlalu banyak dan sangat tidak efektif. Oleh sebab itu TUHAN menegaskan untuk harus dilakukan seleksi. Dan terpilih hanya 300 orang saja. Mereka ini sengaja dipilih TUHAN melalui seleksi untuk melawan bangsa Midian. Anda bisa bayangkan, 300 orang melawan bangsa midian yang banyaknya seperti koloni belalang, yang unta-untanya bagaikan pasir di tepi laut. Dari segi hitung-hitungan diatas kertas tentu tidak sebanding. Pasti menang bangsa Midian dong…..
Tetapi, jangan lupa dengan keberadaan TUHAN di pihak Israel……maka hitung-hitungan di atas kertas bisa berbeda. Dan hal ini memang terbukti. Dengan hanya 300 orang saja, Gideon berperang melawan bangsa Midian jumlahnya luar biasa banyaknya, dan bangsa ini menang! Bangsa Midian dibikin kocar-kacir….takluk lari tunggang langgang. Itulah hebatnya posisi Bangsa Israel, mereka hebat karena ada TUHAN dipihak mereka.
Kita sering berpikir bahwa kekuatan otot, dan otak kita, atau banyaknya anggota keluarga kita, banyaknya pendukung kita adalah modal utama untuk bisa sukses mencapai segala sesuatu. Diatas kertas mungkin bisa diprediksi demikian, tetapi jangan pernah lupa bahwa sehebat-hebatnya kita dengan diri atau kaum kita, masih tidak akan bisa melawan kehendak dan Rancangan TUHAN. Sekuat-kuatnya kita, sehebat-hebatnya kita, paling lama kita bisa hidup 100 tahun….setelah itu Gim…; itu soal hidup. Beberapa pesohor yang santer diberitakan saat ini tersandung kasus korupsi dan kejahatan lainnya, saya hitung dengan seksama paling lama bertahan 10 tahun berkuasa, setelah itu kena tangkap; padahal notabene, si pesohor punya kekuatan tidak hanya dirinya sendiri pintar, kuat, tapi ada beking dari pihak oknum pejabat maupun penguasa. Sekarang aja, kasus skandal century sudah berani memanggil pesohor dan pejabat yang kita awalnya seolah kebal tidak bisa disentuh karena berada dalam lingkaran kekuasaan. Tapi setelah masa kekuasaan itu akan berakhir, satu-satu mulai dipanggil dan dijadikan saksi; tidak menutup kemungkinan nanti malah dijadikan tersangka dan terdakwa atau terhukum who knows.
Jadi pada akhirnya belajar dari peristiwa pemilihan 300 orang Israel untuk melawan orang Midian; kita disadarkan bahwa TUHAN tetap menjadi penentu kemenangan dan kesuksesan hidup kita. Bukan hebatnya Otot kita, pintar kita, banyaknya keluarga, banyaknya pendukung kita…Tuhanlah penentu utama setiap keberhasilan kita. Dan TUHAN hanya berpihak kepada orang benar, orang yang hatinya benar, yang taat dan teruji kebenaran hatinya. Sudahkah hati anda didapati benar oleh Tuhan?

Diambil dari : Facebook RENUNGAN IMAN GKE WIL. PALANGKA RAYA 
Diposkan Oleh Admin Renungan Harian Almanak Nas GKE

Minggu, 15 Juni 2014

Tengoklah Ke Dalam Sebelum Bicara!

Minggu, 15 Juni 2014
TENGOKLAH KE DALAM SEBELUM BICARA!
2 Korintus 13 : 1 - 10
Oleh : Pdt. Kristinus Unting

Bagi Anda penggemar lagu di era 80-an, pasti tahu persis penggalan lirik manis sebuah lagu sarat makna berikut ini: “Tengoklah ke dalam sebelum bicara, singkirkan debu yang masih melekat, singkirkan debu yang masih melekat…..”. Ya, kurang lebih demikianlah penggalan lagu jempolan Ebied G.Ade. Sebuah lagu yang bertutur tentang kemanusiaan kita. Hakikat diri kita. Agar kita sadar bahwa segala sesuatu yang terjadi atas diri kita tidak lepas dari tindak laku perbuatan kita. Supaya lebih bijak menyikapi dan menjalani hidup ini! Jabgablah buru-buru menyalahkan orang. Janganlah berbuat seenaknya, Janganlah lekas-lekas cari kambing hitam. Atau buru-buru menyalahkan Tuhan! Ya, tengoklah ke dalam sebelum bicara! Singkirkan dahulu sekiranya ada debu yang masih melekat pada dari sendiri terlebih dahulu! Ya, berbenah diri itu sikap terpuji!
Dalam lagu yang berbeda, namun syair yang hampir sama, sudah sejak lama Rasul Paulus pun mengingatkan Jemaat Korintus: “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu!...” (ay. 5). Demikian tantangannya kepada Jemaat Korintus yang terkotak-kotak. Blok ini blok itu. Dukung ini dukung itu. Bahkan sang Rasul itu pun (Rasul Paulus) tidak lepas dari kritik mereka. Menurut mereka, Rasul Paulus itu licik, hanya cari keuntungan saja. Khotbahnya tak berbobot , tidak becus, berani kalau di belakang tapi tidak kalau berhadapan muka, dst. (bdk.psl. 11:16; psl. 12:16,19).
Oh saudara….memang ada baiknya kita tengok ke dalam sebelum bicara. Tengok ke dalam diri kita. Itu sikap bijaksana. Dari pada kita cepat-cepat menengok ke luar, ke diri orang lain, melihat kekurangan ini kekurangan itu. Kritik ini kritik itu, apalagi berbuat semaunya terhadap orang lain. Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan! Mengabaikan peri kemanusiaan, menyalahkgunakan kekuasaan, merusak alam lingkungan dalam kerakusan, dst. Karena ingatlah, Tuhan tak akan diam di atas sana! Karena Tuhan dengan caranya yang Maha Adil dan Bijaksana dapat saja membuat semacam “cambuk kecil” melewati berbagai bencana. Kutuk atau berkat dialah yang empunya. Agar kita sadar bahwa hanya Dia-lah di atas segalanya.
Oh, saudara…memang ada baiknya kita singkirkan debu yang masih melekat dalam diri kita. Itu sikap terpuji. Ketimbang cepat-cepat bicara tentang debu pada diri orang lain. Sebab, jangan-jangan debu yang sama atau malah lebih banyak pada diri kita sendiri belum kita bersihkan. Sebagai anak-anak Tuhan, kaji dan ujilah segala sesuatu secara cermat dan bijaksana. Jangan cepat ambil keputusan, ini salah itu salah. Janganlah semena-mena terhadap orang lain, tetapi sebaliknya nyatakanlah kasih, karena demikian seharusnya kita laksanakan. Karena siapalah kita ini di hadapan Tuhan, sama-sama makhluk lemah tak punya kemampuan apa-apa. Lahir ke dunia pun telanjang, kembali nanti pun telanjang tak membawa apa-apa! Karenya, kurangilah hanya ber-bla…bla..bla… tetapi perteballah iman dan taqwa, laksanakan kasih senyata-nyatanya. Karena pada akhirnya itulah yang paling berharga dan sangat menentukan! Amin!

Diambil dari : Facebook RENUNGAN IMAN GKE WIL. PALANGKA RAYA 
Diposkan Oleh Admin Renungan Harian Almanak Nas GKE

Senin, 09 Juni 2014

"Roh Kudus" : Kuasa Macam Apakah Itu?

Minggu, 09 Juni 2014
“ROH KUDUS” : KUASA MACAM APAKAH ITU?
Kisah Para Rasul 2 : 41 - 47
Oleh : Pdt. Kristinus Unting, M.Div

Roh Kudus, oh kuasa macam apakah itu? Alkitab menyaksikan bahwa Roh Kudus juga adalah Allah sejati; Ia melakukan pekerjaan ilahi: mencipta, melahirkan kembali, menguduskan, memberikan berbagai karunia kepada manusia, Ia menyelidiki hal-hal yang terdapat dalam diri Allah. Namun pada saat yang sama, Ia juga dinyatakan sebagai Pribadi yang berbeda dari Bapa dan Anak. Ketiga Pribadi Trinitas ini muncul bersamaan saat pembaptisan Yesus (Mat. 3:16-17), dalam formula baptisan (Mat. 28:19).
Ketika kita mengaku percaya kepada satu Allah yang esa, maka kata “Allah” itu menunjuk kepada satu esensi tunggal yang kita mengerti terdiri dari tiga pribadi; dan kapan saja kata “Allah” itu disebut, maka selain Bapa, juga Anak dan Roh Kudus termasuk di dalamnya; dan ketika Anak disebut bersama Bapa maka itu memperkenalkan kepada kita hubungan yang erat antara keduanya, dan yang menyatakan perbedaan antara kedua pribadi. (John Calvin, Institutes of the Christian Religion, I.13). Roh Kudus, kuasa macam apakah itu?
Pertama, Roh Kudus adalah suatu “kuasa Ilahi”. Kuasa dari Allah untuk memampukan orang percaya mengemban tugas-tugas maha berat dan penuh resiko. Tugas maha berat dan penuh resiko itu adalah tugas untuk membawa, memberitakan, memperkenalkan dan bersaksi tentang Yesus Kristus kepada semua orang dan ke seluruh dunia. Tugas berat, sebab dunia kepada siapa kita akan menyaksikan tentang Kristus itu adalah dunia yang pada hakekatnya membenci Kristus. Resiko, sebab Kristus yang harus kita beritakan itu adalah Kristus yang tersalib, yang merupakan batu sandungan bagi orang Yahudi dan suatu kebodohan bagi orang Yunani (bdk. I Kor. 1:18, 23).
Kedua, Roh Kudus adalah “Roh Spirit” Ilahi yang memapukan kita melakukan tidakan destruktif (meruntuhkan) sekaligus tindakan konstruktif (membangun). Omong kosong membangun kehidupan menjadi lebih baik, tanpa terlebih dahulu membongkar bangunan sebelumnya yang lapuk, ambur-adul. Dan omong kosong pula kita dapat mengharapkan suatu tatanan kehidupan menjadi lebih baik, bila kerja kita hanya merobohkan! Hanya kritik melulu, saran melulu! Tetapi harus dibarengi aksi nyata untuk membangun dan menata kembali apa yang rusak menjadi lebih baik. Ya, harus kedua-duanya. Ya, itulah Roh Kudus. Bila sifat-sifat ini terlihat nyata, nah pastilah gereja tersebut sungguh bersandar pada kuasa Roh Kudus, bukan bersandar pada “roh aku..aku..aku…!”
Ketiga, Roh yang “membaharui”. Roh Kudus memungkinkan kita untuk menciptakan gaya hidup yang baru, persekutuan dan kebersamaan yang utuh, pelayanan dan kesaksian yang sungguh-sungguh. Dengan kata lain, Roh Kudus adalah Roh pembaharuan yang memampukan orang percaya dapat eksis untuk secara kreatif merealisasikan imannya dalam situasi dan kondisi yang sulit sekalipun! Roh Kudus mengiringi setiap langkah kita hingga kita mampu beraktivitas dan melayani di bumi secara sungguh-sungguh penuh sukacita, berani dan cerdas, tanpa bermalas-malas, tanpa udang di balik batu, hingga Ia datang kembali menjemput kita dalam kemuliaan sorga.
Roh Kudus, menjadikan kita selaku umat percaya tidak lagi berbicara dalam bahasa kita sendiri. Tetapi di dalam bahasa para pendengar kepada siapa kabar sukacita itu kita sampaikan. Artinya: kita kini tidak dapat hidup untuk diri kita sendiri, kelompok kita sendiri, gereja kita sendiri, kepentingan sendiri-sendiri. Kita tidak dapat memikirkan hanya keselamatan diri sendiri dan kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga! Kini kita adalah saksi-saksi. Artinya: seluruh hidup dan kedirian kita kini hanya menunjuk kepada yang lain, kepada Yesus Kristus. Saudara, sudahkah kita sungguh-sungguh dibakar dan dibaharui oleh Roh Kudus? Ya, hanya orang–orang yang telah dibakar dan dibaharui Roh Kuduslah yang mampu mengabdikan dirinya secara penuh, mengasihi lebih sungguh serta berkata: “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kis. 20:35). Selamat Hari Pentakosta. Amin!
Diambil dari : Facebook RENUNGAN IMAN GKE WIL. PALANGKA RAYA 
Diposkan Oleh Admin Renungan Harian Almanak Nas GKE

Jumat, 16 Mei 2014

Berdoa Adalah Mencari Allah Dengan Segenap Hati

Jumat, 16 Mei 2013
BERDOA ADALAH MENCARI ALLAH DENGAN SEGENAP HATI
Yesaya 65 : 17-25
Oleh : Pdt.Dermawisata J. Baen, MTh.

Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarnya” (Yesaya 65:24).

Saudara, ini adalah salah satu ayat pujian dalam Perjanjian Lama yang sangat menarik. Ayat ini berbicara tentang hakekat dari sebuah doa. Dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), ayat ini berbunyi: ”Sebelum mereka memohon, Aku menjawab; sebelum mereka selesai berdoa, Aku sudah mengabulkan doa mereka”. Ayat ini mengingatkan kita bahwa berdoa bukan dimulai dengan menyampaikan keinginan kita kepada Allah, tetapi dimulai dari memahami kehendak Allah, yakni apa yang Allah inginkan dari kita untuk kita minta kepada-Nya. Ketika kita memahami apa yang Allah kehendaki untuk kita mohonkan, maka yang pertama, permintaan kita tetap sejalan dengan kehendak-Nya. Kedua, kalau kita mulai dari apa yang Allah kehendaki untuk kita minta, maka kita akan diberi keberanian untuk meminta apa yang Allah sudah siapkan untuk diberikan kepada kita bahkan lebih banyak daripada yang akan kita mohonkan.

Pertanyaannya, apakah setiap doa kita akan dijawab? Jawabannya tergantung dengan dari mana kita memulai doa itu, apakah dari keinginan kita atau keinginan Allah yang akan Ia berikan kepada kita. Yakobus 4:3 mengingatkan setiap pendoa, agar tidak terjebak dalam doa yang berpusat pada keinginan hati manusia yang serakah. Doa yang serakah adalah doa yang dimotivasi oleh hawa nafsu sehingga kita tidak mendengar apa yang ingin Allah katakan untuk Ia berikan kepada kita. Doa kita menjadi monolog, bukan sebuah dialog pribadi dengan Tuhan, dimana kita memberikan kesempatan Allah juga menyampaikan sesuatu kepada kita. Ibarat percakapan dengan telpon, kita lebih dahulu memutuskan sambungan telepon sebelum kita mendengar apa yang Tuhan mau katakan!. Akibatnya kita tidak menerima jawaban apa-apa dari doa itu.

Dengan demikian, berdoa bukan untuk meminta perhatian Allah, melainkan kita memfokuskan perhatian kita kepada Allah dan memahami apa yang akan Ia katakan atau berikan kepada kita. Dengan kata lain berdoa adalah mencari Allah dengan segenap hati. Kalau demikian, kita tidak perlu takut doa kita tidak dijawab. Kalau kita mengetahui apa yang sesungguhnya ingin Allah berikan, ketika kita memohon kepada-Nya, maka setiap doa kita akan selalu mendapat jawaban yang sesuai dengan kebutuhan kita. Allah lebih tahu tentang apa yang kita perlukan. Karena itu, setiap jawaban dari Allah atas doa kita, maka itulah kebutuhan kita yang sesungguhnya menurut Allah. Amin!

Diposkan Oleh Admin Renungan Harian Almanak Nas GKE



Minggu, 03 November 2013

Bekerjasama Dengan Allah untuk Mendatangkan Berkat

Minggu, 03 November 2013
BEKERJASAMA DENGAN ALLAH UNTUK MENDATANGKAN BERKAT
Mazmur 127:1-5
Oleh : Pdt.Kristinus Unting, M.Div

Gedung S.C. Johnson & Son di Racine, Wisconsin, disebut sebagai "arsitektur termegah abad-20 di Amerika." "Ruang Kerja Agung" seluas setengah hektar dalam gedung itu mempunyai langit-langit tiga tingkat beratap kaca yang memantulkan permainan cahaya dan bayangan yang indah. Meskipun dimasukkan dalam Daftar Nasional Bangunan Bersejarah, sebenarnya Gedung Johnson itu merupakan tempat kerja yang jauh dari ideal. Pipa-pipa kaca yang menghasilkan cahaya yang menakjubkan itu juga berfungsi sebagai perangkap tikus yang tidak diharapkan. Ruang Kerja Agung itu sangat besar dan tinggi sehingga para pekerja masih dapat mendengar semua percakapan dari jarak kurang lebih 30 meter. Air merembes melalui atap datar yang luas, dan embun menetes dari pipa-pipa kaca.

Saudara, dalam hidup ini, tidak jarang kita merencanakan untuk membangun semacam “rumah kehidupan”. Membangun "rumah kehidupan" yang hebat menurut rencana kita. Namun betapa sering pula bangunan tersebut tak dapat diselesaikan, atau selesai juga tapi akhirnya runtuh. Keegoisan kita membuat lubang-lubang besar yang dapat digunakan sebagai pintu masuk bagi musuh kehidupan. Hal itu dapat terjadi dalam hidup kita bila kita membangunnya menurut ide-ide kita sendiri, bukan berdasarkan Firman Allah. Tentu banyak hal yang boleh kita rencanakan dalam kehidupan. Rencana untuk membangun rumah, masa depan anak-anak, pernikahan, studi, pekerjaan, dst. Namun semua itu sering tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kenapa? Karena kita lupa, seolah-olah kita sanggup melaksanakan apa yang kita rencanakan. Kita lupa bahwa tanpa penyertaan dan berkat Tuhan sesuatunya hanya akan sia-sia (ay.1-2).

Mazmur 127 disebut juga sebagai nyanyian ziarah, "Songs of Ascents" (yaitu "Nyanyian Pendakian" atau anak-anak tangga). Disebut demikian karena Mazmur ini biasanya dinyanyikan orang Yahudi bersama-sama manakala mereka "naik" ke Yerusalem sebagai peziarah untuk merayakan hari raya kudus mereka. Isinya menyangkut pernyataan iman dan pujian yang diilhamkan Roh, berisi ungkapkan perasaan mendalam hati sanubari manusia dalam hubungan dengan Allah. Ya, pernyataan keyakinan bahwa hanya Allah saja sumber segala berkat dan kasih karunia.

Pemazmur di sini mengajak umat untuk meyakini bahwa segala daya upaya dan jerih payah manusia adalah sia-sia belaka jika tidak disertai dan diberkati oleh Tuhan. Sebaliknya, segala anugerah dan berkat bagi orang benar datang dari Tuhan sumber segala kasih karunia. Sebagai umat Tuhan tentu kita semua rindu untuk diberkati oleh Tuhan. Diberkati dalam rumah tangga, study, pekerjaan, jodoh, bisnis, dlsb. Kesadaran bahwa Tuhan saja satu-satunya yang berkuasa, seharusnya membuat kita hanya mencari Tuhan disaat kita membutuhkan pertolongan. Tanpa pertolongan dan berkat Tuhan maka “Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi ..., dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah, sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur” (ay.2).

Berkat Tuhan didapat tentu bukanlah tanpa usaha dan kerja keras. Demikian pun ketika kita menghadapi berbagai goncangan kehidupan. Tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan kita sendiri. Atau hanya mengandalkan harta kekayaan semata. Juga hanya dengan kecerdasan saja! Tetapi dengan persiapan yang matang, mengutamakan penyertaan Tuhan, hingga kita beroleh kekuatan kala masalah atau badai kehidupan datang menerpa. Tuhan saja satu-satunya yang dapat memberikan pertolongan dan perlindungan kepada kita, karena hanya Dia yang mengasihi kita. Tuhan saja sumber pertolongan yang sejati bila kita bergantung kepada Dia. Karena itu, berjuang, bekerja keras, dan berharaplah pada pertolongan Tuhan senantiasa, supaya segala rencana kita diberkati-Nya. Amin!

Diposkan Oleh Admin Renungan Harian Almanak Nas GKE

Jumat, 25 Oktober 2013

Bertobat Lebih Baik Dari Mempersembahkan Korban

Jumat, 25 Oktober 2013
BERTOBAT LEBIH BAIK DARI MEMPERSEMBAHKAN KORBAN
Yesaya 1:10-20

Suatu ketika ada seorang hamba Tuhan yang mengkhotbahkan nas tersebut diatas. Lalu setelah selesai kebaktian salah seorang anggota jemaat bertanya: Pak, sepertinya nas firman Tuhan hari ini sepertinya "Kontradiktif". Disatu sisi Allah kita adalah Allah yang sangat mengasihi dan panjang sabar, biarpun dosa kita merah seperti kirmizi akan diputihkan seperti salju. Tetapi disisi lain, Dia sepertinya sangat pemarah. Sampai Dia berkata: Dia benci dan jijik melihat persembahan umatNya. Apakah Allah kita itu Allah yang tidak stabil ? Apakah Allah kita hari ini menyatakan kasihNya, lalu besok meledak-ledak amarahNya ? Mengapa Allah menolak kita dan tidak mau mendengarkan doa-doa kita ? (Yesaya 1:12-15)

Dalam renungan hari ini, marilah kita bersama-sama mempelajari mengapa Allah bisa marah dalam keseluruhan konteks nas dalam kitab Yesaya 1:10-20.

Pertama. Sebab ada orang yang sudah diberkati Tuhan, tetapi tidak mau menguduskan dirinya dan lupa Tuhan. Dunia yang sedang kita jalani ini, cenderung sedang berkembang kearah keadaan pada zaman manusia di kota Sodom dan Gomora. (2 Timotius 3:1-9)

Dimana negerinya subur, hidup mereka makmur, sejahtera dan banyak diberkati Tuhan, sudah banyak melihat dan mengalami mujizat Tuhan; tetapi hidup mereka masih saja bergelimang dosa, mengabaikan semua perintah Tuhan yaitu penuh keduniawian, mementingkan diri sendiri, berbuat jahat seorang terhadap yang lain, kesombongan, percabulan, perzinahan dan persetubuhan yang tidak wajar antar sesama jenis. Inilah alasannya mengapa Tuhan dapat marah, karena kita tidak dapat bersyukur dan menghargai kebaikan hati Tuhan.

Kedua. Jika kita memberikan persembahan dan berkorban materi, tetapi tidak disertai dengan hati yang rela dan tulus (Yesaya 1:13)

Manusia melihat/menilai seseorang dari yang terlihat oleh matanya, tetapi Tuhan melihat hatinya. (1 Samuel 16:7) Ingat! Allah lebih membutuhkan hati yang tulus daripada korban. Ada banyak pekerjaan Tuhan yang bermasalah, disebabkan oleh karena ada banyaknya orang kristen yang berkorban waktu, tenaga, uang; tetapi hatinya belum dipersembahkan secara rela dan tulus kepada Tuhan.

Ketiga. Apabila seseorang sudah diselamatkan, tetapi ia tidak berusaha untuk belajar berbuat baik, memperhatikan kepentingan orang lain, bertindak adil dan membela yang benar. Dalam kitab Yesaya 1:17 dikatakan : Belajarlah berbuat baik, berarti "untuk berbuat baik", kita harus belajar. Karena itu, mulailah belajar melakukan perbuatan baik sedikit demi sedikit setiap hari, sehingga lama kelamaan hal itu akan menjadi suatu kebiasaan bagi kita dalam berbuat baik terhadap sesama.

Keempat. Apabila kita melawan dan memberontak kepada Tuhan. Tidak sedikit orang bersyukur kepada Tuhan, kalau hidupnya diberkati dan hidupnya baik-baik saja. Tetapi ketika misalnya Tuhan menegor mereka dan mau membersihkan mereka dari kotoran duniawi yang melekat pada hati dan pikiran mereka melalui sebuah persoalan/masalah, maka iman mereka mulai mundur, ngambek, bersungut-sungut dan memberontak pada Tuhan. (Yesaya 1:20)

Ingat, ada satu hal yang harus kita jaga yaitu janganlah melawan dan memberontak terhadap Tuhan. Apapun keadaan dan situasi kita, tetaplah bersyukur kepadaNya, percaya dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan dan tetaplah hidup taat dan setia sesuai firman Tuhan, maka hidup kita akan sejahtera, berkecukupan dalam segala sesuatu dan berkelimpahan dalam kebajikkan.(Yesaya 1:19)

Doa kami : Ampunilah kami ya Tuhan Yesus, kalau kami sering tidak puas, mengomel, memberontak dan meragukan kebaikanMu dalam hidup ini. Amin

Sumber : http://pdairhidup.blogspot.com/2012/08/renungan-10-agustus-2012.html
Diposkan Oleh Admin Renungan Harian Almanak Nas GKE

Minggu, 20 Oktober 2013

Gereja : Mutu Rombeng Harga Selangit!!

Minggu, 20 Oktober 2013
GEREJA: MUTU ROMBENG HARGA SELANGIT?!
Filipi 4:2-9
Oleh: Pdt.Kristinus Unting, M.Div

Saya tidak tahu andai kata suatu saat anda ditawarkan sebuah barang dengan mutu rombeng tapi dengan harga yang selangit. Harga sama, bahkan lebih mahal dari barang berkualitas. Anda berminat? Oh…oh…oh…! Bukankah yang rasional pada umumnya bahwa yang rombeng, barang bekas, lebih murah dari yang berkualitas? Bukankah wajar bila yang berkualitas lebih mahal dari yang rombeng? Dapatkah anda bayangkan bila orang berkelas, koq memakai baran rombeng? Gengsi dong? Di sisi lain, demikian pun para penjaja barang, tentu bersaing untuk menampilkan barang-barang terabik mereka dengan tujuan agar nilai jual melambung tinggi! Itu wajar semata! Dengan mutu berkualitas si pembeli pun merasa puas, berapa pun harganya akan dibayar walau isi dompet habis terkuras!

Oh, saudara…. Bukan hanya di dunia bisnis, tetapi hampir di berbagai aktivitas kehidupan prisif ini berlaku. Lihat saja di sekolah-sekolah, bukankan para murid yang akan diterima harus memenuhi standar tertentu? Bukankan itu juga menyangkut kualitas? Mau jadi CPNS? Oh, anda juga pasti di tes! Bukankah itu juga artinya masalah kualitas? Lalu tentang gereja? Apakah menurut saudara tidak hubungannya dengan masalah kualitas? Bukankah sering kita dengar orang menuntut pelayanan yang berkualitas? Khotbah yang berkualitas, ibadah yang berkualitas, ya pokoknya yang serba oke, serba berkualitas? Tidak heran bila banyak juga gereja melakukan berbagai renovasi maupun pembenahan di berbagai bidang, baik dari sarana pisik, sarana penunjang, bentuk ibadah , strategi, keuangan, hingga soal teologis. Sebab, bila tidak menarik, siapa yang tertarik?

Siapa yang tertarik, bila misalkan para pengurusnya sendiri gontok-gontokan? Bagaimana mungkin Gereja menyaksikan kebenaran Injil Kristus di tengah dunia, bila fakta menunjukkan bahwa di dalamnya sendiri terjadi konflik? Bagaimana kehidupan persekutuan dapat teratur, bila orang-orang yang seharusnya jadi pengatur malah cenderung susah diatur? Bagaimana mungkin warga jemaat mendengarkan kebenaran firman dan bersatu bila yang seharusnya menjadi panutan, justru menjadi pemicu konflik dan perpecahan? Akibatnya tentu saja pertumbuhan jemaat menjadi terhambat. Sebagai sesama anggota tubuh Kristus yang percaya akan pemerintahan Kristus atas Gereja-Nya, konflik tidak semestinya terjadi. Tapi di sinilah titik persoalannya. Apa itu? Apalagi kalau bukan kurangnya rasa rendah hati dan semangat bersekutu dalam jemaat.
Seorang wartawan pernah bertanya kepada penginjil ternana D.L. Moody, orang mana yang memberi kesulitan paling besar dalam pelayanannya. Moody menjawab seketika, "Saya mempunyai kesulitan paling banyak dengan D.L. Moody dibandingkan dengan orang-orang mana pun yang masih hidup." Pernyataan Moody menggarisbawahi bahwa problem terbesar kita ternyata bukanlah setan dan anak buahnya. Mereka sudah dikalahkan oleh Tuhan Yesus di kayu salib. Problem terbesar kita tidak lain adalah diri sendiri. Sekalipun kita sudah percaya kepada Yesus, sifat kedagingan manusia yang berpusat pada diri sendiri dan egois itu masih melekat. Keakuan bahkan sering masih sangat kuat. Ketidakserasian hubungan, apalagi itu terjadi di antara para aktivis seperti Euodia dan Sintikhe, adalah hal yang tidak baik dibiarkan. Kita perlu waspada jika ada kecenderungan untuk mati-matian menjunjung gengsi.

Kita perlu waspada jika selalu berusaha keras agar setiap orang menghormati kita dan tidak ada yang meremehkan kita. Karena tanpa kita sadari, sikap semacam itu malah memperkuat keangkuhan dan kesombongan. Sederet masalah lain akan mengikutinya, seperti tidak mau ditegur, tidak mau mengampuni, dan merasa diri paling benar. Inilah keakuan yang perlu kita taklukan di dalam kehidupan kita. Inilah kondisi yang perlu kita waspadai agar tidak membelenggu hati kita. Sebelum orang bisa sepikir didalam Tuhan, maka sehati dan setujuan tentu tak pernah terwujud menjadi kenyataan!

Seperti juga yang kita ketahui, Mahatma Gandhi sendiri tidak pernah menjadi orang kristiani. Apa penyebabnya? Ya, tentu saja kalau bukan dari apa yang dilihatnya bahwa kehidupan Kristen itu justru tidak lebih baik dari yang lain. Bahkan ia pernah membuat pernyataan bahwa kita, para pengikut Yesus, seharusnya memikirkan hidup dengan baik. Ketika diminta untuk menyampaikan pesan pendek, ia menjawab, “Hidupku adalah kesaksianku.” Oh…oh…oh…! Rupanya kita juga perlu diajar atau belajar dari yang diluar kekristenan? Ya, itu perlu! Tak perlu malu-malu! Kita perlu rendah hati mengkoreksi diri seperti yang diungkapkan oleh Gandhi tersebut. Bila cara hidup kekristenan tidak jauh lebih baik dari yang lain, siapa yang tertarik? Sebagai Gereja atau selaku orang percaya, kita memang perlu menjelaskan pesan Injil sejelas mungkin. Namun, penjelasan yang paling jelas sekalipun tidak akan memenangkan hati banyak orang, bila kasih Kristus tidak menyatu dalam hidup kita terlebih dahulu.

Dalam nas ini Paulus menyampaikan sekaligus mengingatkan visi pelayanan Gereja, bahwa Injil Kristus yang kita perjuangkan adalah Injil yang di dalamnya ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra, dan belas kasihan. Rupanya di jemaat Filipi juga terjadi konflik, malah konflik antar pengurus Gereja. Orang-orang terpandang di persekutuan, antara Euodia dan Sintikhe. Euodia dan Sintikhe adalah dua orang perempuan yang terlibat dalam jemaat dan menjabat sebagai Diaken. Rupanya di antara keduanya sering terjadi perselisihan yang dikhawatirkan akan merusak persekutuan di antara anggota jemaat di Filipi. oh, ironis memang. Semoga hal yang demikian tidak terjadi di tempat Anda.

Paulus meminta kepada mereka untuk menunjukan sikap rendah hati dan juga kepada semua pihak yang terkait dengan perselisihan kedua perempuan tersebut agar segera menyelesaikan persoalan yang ada. Sikap mementingkan diri sendiri, acuh tak acuh, angkuh, yang hanya akan mendatangkan perpecahan, pertikaian, pertengkaran, perceraian, dlsb. Singkirkanlah itu! Ketidakcocokan ajaran, konflik antar pemimpin, pertikaian antar ras, pertentangan konsep, dlsb. tidak jarang mengakibatkan warga jemaat jadi kocar-kacir, kebingungan mencari ajaran yang paling pasti, yang paling benar, dan yang paling teratur.

Dalam dunia ini perbedaan pendapat pasti selalu ada, bukan barang baru. Kalau ada 10 kepala, biasanya juga akan ada 10 pemikiran. Banyak hal yang bisa membuat perbedaan pikiran atau pendapat. Biasanya hal itu terjadi karena perbedaan pandangan. Yang satu barangkali berpikir begini, yang lain barangkali begitu. Yang satu berpikir dari sudut pandang rohani, yang lain mungkin dari sudut pandang jasmani. Atau bisa jadi karena perbedaan tradisi, golongan, pendidikan, kepentingan dll. Masalah memang selalu ada. Beda pandangan memang selalu kita hadapi dimana saja. Dalam keluarga, di kantor, di organisasi, bahkan juga dalam persekutuan. Masalah bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dihadapi dan diselesaikan. Jadi, mengapa harus takut menghadapi sebuah perbedaan kalau justru perbedaan itu akan membuat kita menjadi seseorang yang lebih baik untuk sebuah kebersamaan? Hanya saja, bersikaplah cerdas, jangan sampai masalah yang kecil justru menimbulkan masalah yang lebih besar lagi.

Jika perilaku tidak selaras dengan pengakuan iman, maka ketidakselarasan itu akan menghapuskan kesaksian Injil yang kita sampaikan. Untuk membangun keserasian atau keharmonisan tentu dibutuhkan keterbukaan pribadi untuk sehati sepikir dalam Tuhan Yesus Kristus. Apa dasarnya? Ya, tentu saja seperti kata nasihat Rasul Paulus, milikilah “damai sejahtera Kristus yg melampaui akal untuk memelihara hati dan pikiran” (ay.7). Ya, hanya dengan demikian orang dapat mengungkapkan kebaikan hatinya dalam berbagai aktivitas tindakan. Itulah dasar orang dapat menaikan syukur. Itulah kunci melalui mana orang dapat berpikir positif, hidup rendah hati, sehati dan setujuan! Ya, itulah kehidupan gereja yang tentu Allah berkenan. Kehidupan persekutuan yang berkualitas. Gereja dengan kesaksian kehidupan yang menarik. Membuat banyak yang tertarik. Bukan sebaliknya, ibarat mutu rombeng harga selangit! Amin!
Diposkan Oleh Admin Renungan Harian Almanak Nas GKE