Renungan Harian GKE ini menjadi berkat untuk Jemaat GKE dimana saja.

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 6 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 7 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 8 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 07 Oktober 2013

Kembalilah pada Saat ini Juga

Senin, 07 Oktober 2013
KEMBALILAH PADA SAAT INI JUGA
Wahyu 2 : 1-7
Oleh : Pdt.Tom Chandra STh.

Kitab Wahyu merupakan kitab yang ditulis oleh Rasul Yohanes murid Tuhan Yesus. Kitab ini ditulis pada masa pemerintahan Kaisar Nero dimana orang Kristen mengalami penganiayaan yang sangat berat, Rasul Yohanes pun diasingkan di Pulau Patmos, di pulau inilah dia mengalami penglihatan; perjumpaan langsung dengan Tuhan Yesus, keadaan kehidupan sesudah kematian, peristiwa yang direkam menjelang akhir zaman, kehancuran penguasa kegelapan dan kehidupan sorgawi. Melalui penglihatan inilah Rasul Yohanes menguatkan orang-orang Kristen saat itu secara khusus dalam nats hari ini adalah jemaat Efesus.

Jemaat Efesus dianggap meninggalkan kasihnya yang semula (4), ditambahkan pula betapa dalamnya mereka jatuh dan meninggalkan persekutuan dengan Tuhan-Nya (5) namun Tuhan masih menghendaki mereka bertobat dan kembali kepada-Nya (5b). Pada ayat yang ke tujuh penulis kitab ini mengingatkan agar kita tetap setia, teguh dan semangat sekaligus bangga menjadi orang Kristen yang mempraktekan sikap hidup Tuhan Yesus dengan segala pengajaran-Nya.

Apa yang dapat kita renungkan hari ini? Setiap kita pasti mengalami kasih mula-mula, bisa kita ibaratkan kasih dalam suasana “jatuh-cinta”. Jika saudara pernah mempunyai kekasih, saudara tentu bisa merasakan suasana kasih ketika sedang jatuh cinta. Kasih semula menampakkan dirinya sebagai kasih yang murni, tidak campur aduk dengan yang lain. Karena itu, dia juga hangat menggetarkan serta bersifat spontan, jauh dari sikap pura-pura atau rekayasa. Kasih semula tidak pernah mau menyakiti serta rela berkorban tanpa merasa berkorban, memberikan apa saja demi yang dikasihinya. Yaitu kasih yang menggelora, kasih yang menutup segala sesuatu, dan kasih yang hanya tertuju kepada yang dikasihi. Bukankah itu pula kasih yang kita rasakan saat ditahbiskan menjadi pendeta? Saat kali pertama kita menerima tugas sebagai penatua diaken? Saat kita disembuhkan Tuhan dan ingin segera membantu pekerjaan-Nya? Saat kita diubah Tuhan menjadi pribadi yang sukses? Lalu mengapa dalam perjalanan hidup kita selanjutnya kita menjadi suam-suam kuku atau tiba-tiba menjadi galau? Saudara sekalian, hari ini Firman Tuhan ini pun masih sama. Tuhan Yesus masih menunggu kita untuk mengerjakan lagi segala pekerjaan yang dipercayakan-Nya, ayolah kembali.

Diposkan Oleh Admin Renungan Harian Almanak Nas GKE

Minggu, 06 Oktober 2013

Ada Apakah dengan Masa Lalu dan Masa Sekarang?

Minggu, 06 Oktober 2013
ADA APAKAH DENGAN MASA LALU DAN MASA SEKARANG..??
Mazmur 78:12-31
Oleh : Pdt Telhalia G.Ambung, MTh.

Beberapa orang menganggap pengalaman masa lalu baik atau buruk adalah pelajaran berharga dan dapat menjadi guru yang baik bagi masa depan. Namun banyak juga yang beranggapan bahwa masa lalu adalah masa lalu yang sudah terjadi, persetan dengan masa lalu dan sekarang adalah masa sekarang yang akan dihadapi. Sebenarnya apa yang menjadi pemahaman kita tentang masa lalu dan masa sekarang merupakan hak pribadi seseorang. Namun yang menjadi persoalan adalah apabila kesalahan atau kejahatan dari masa lalu terus menerus terulang kembali untuk dilakukan dan kesadaran hanya bersifat sementara, sekalipun ganjaran atau hukuman terjadi maka tidak ada efek jera bahkan pertobatan. Seolah-olah kejahatan dan kebaikan adalah dua sisi dari satu mata uang yang nilainya sama saja sebagai alat tukar jual-beli. Dan ironisnya, banyak orang Kristen melakannya dan bukan hanya bangsa Israel saja di jaman Perjanjian Lama. Hal ini terungkap dalam nyanyian pengajaran pemazmur asaf, yang menguraikan kejadian-kejadian dari masa lalu yang berisikan kebaikan Allah terhadap mereka (ay. 12-16, 23-29) dan sekaligus dosa, kekerasan hati dan ketidak percayaan bangsa Israel terhadap Allah (ay. 17-20, 22, 30), yang seolah-olah sama nilainya seperti dua sisi dari sebuah mata uang.

Tidak hanya bangsa Israel namun banyak orang-orang Kristen di jaman sekarang ini yang terus-menerus berbuat dosa dan tidak percaya dan yakin akan keselamatan dari pada-Nya (bnd ay. 17 & 22). Menariknya Allah tetap menunjukan kasih kemurahanNya, sehingga tidak heran ada banyak orang Kristen yang kita jumpai yang makmur karena kejahatannya, atau sehat-sehat /baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa dengan mereka. Namun pertanyaan kita benarkah sedemikian besar kasih kemurahan Allah atau benarkah orang-orang yang melakukan segala bentuk kejahatan dan tidak percaya akan terus menerus hidup dalam kebahagian dan kemakmuran ? jika kita berpendapat demikian sungguh tidak adilnya Allah. Lalu kita mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut….maka bangkitlah murka Allah terhadap mereka, Ia membunuh gembong-gembong mereka dan menewaskan taruna-taruna Israel (ay 31). Jadi Allah itu adil dan kemurahan berbalik menjadi murkaNya yang mampu menghancurkan semua orang dari yang tidak tersentuh karena kebal hukum dunia (bnd. Sebutan gembong dan taruna-taruna), sampai keakar-akarnya.

Dari nyanyian pengajaran pemazmur Asaf, kita diingatkan agar jangan pernah mempermaikan kasih kemurahan Allah dengan melakukan segala macam bentuk kejahatan dan dosa, dan meragukan keselamatan dari pada-Nya. Belajarlah dari pengalaman atau sejarah masa lalu baik atau buruk dan akibat yang ditimbulkannya agar ke depan menjadi lebih baik. Siapakah di antara kita yang tidak pernah melakukan kesalahan ? berdusta, mencuri atau mengambil hak-hak orang lain, membunuh, berzinah atau tidak setia dengan pasangannya, menduakan Allah melalui kepercayaan lainnya dan sebagainya. Salah satu di antaranya tentu pernah kita lakukan bukan ? dan siapakah di antara kita ingin hidupnya menderita akibat dari perbuatan yang kita lakukan dan mendapat murka Allah ? tentu tidak. Maka jangan mengulangi kesalahan yang sama dan perbaiki kesalahan menjadi sebuah kebenaran. Sebab keselamatan dan kemurahan kasih setia Allah tidak pernah berhenti bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya dan terus berharap kepada-Nya. Imanuel. Amin.

Diposkan Oleh Admin Renungan Harian Almanak Nas GKE

Sabtu, 05 Oktober 2013

Merespon Pangggilan Tuhan?

Sabtu, 05 Oktober 2013
MERESPON PANGGILAN TUHAN..??
Markus 1:14-20
Oleh : Pdt. Telhalia G.Ambung, MTh.

Seandainya manusia berpendapat sama, bahwa semakin tuanya dunia ini, maka semakin baik pula kehidupan manusia dan dunia itu sendiri. Seperti kebanyakan orang berpikir, semakin tuanya usia seseorang, maka semakin bijaksanalah dirinya, karena telah banyak makan asam garamnya hidup. Namun semuanya itu tidak seluruhnya benar. Sebab justru semakin tuanya dunia, semakin banyak dosa dan kejahatan dan semakin banyak cara yang dilakukan oleh manusia untuk membuktikan diri betapa berkuasanya manusia, sehingga norma-norma dan nilai-nilai kebenaran firman Allah telah bergeser, bahkan diabaikan begitu saja.

Namun kita patut bersyukur, bahwa Allah begitu mengasihi kita (bnd. Yoh 3:16). Hal ini sudah dibuktikan Tuhan Yesus, betapa penyelamatan itu harus terjadi dan manausia dapat diselamatkan oleh-Nya. Pada saat Tuhan Yesus dicobai di padang gurun selama empat puluh hari dan Yohanes pembaptis ditangkap karena pengajaran dan seruannya untuk bertobat (lih. Prokop sebelumnya). Menimbulkan sebuah keprihatinan, betapa kejahatan dosa dan iblis terus menerus menyesatkan banyak orang.

Untuk itu seruan Tuhan Yesus : waktunya telah genap, kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil (ay. 14), merupakan keseriusan dari kasih Allah kepada manusia agar menerima keselamatan dari pada-Nya dan tidak menjadi pengikut iblis yang membawa manusia kepada kebinasaan. Oleh sebab itu seruan-Nya : waktunya sudah genap dan kerajaan Allah sudah dekat, mempertegaskan kepada semua orang bahwa, segala hal yang difirmankan oleh Allah dan dinubuatkan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama akan digenapi yaitu sekarang waktunya, pada saat Tuhan Yesus tampil memulai pelayanan-Nya sebagai Mesias dan melalukan segala mujizat-mujizat-Nya. Bahkan seruan untuk bertobat dan percaya kepada Injil (Yunani : kabar baik), merupakan cara agar manusia menerima dan melihat kebenaran yang sesungguhnya sebab hanya dengan bertobat dan percaya, manusia diselamatkan.

Pemanggilan para murid-murid-Nya yang pertama secara berpasangan dan memiliki pekerjaan yang sama sebagai penjala ikan, merupakan bentuk keterlibatan manusia dalam pelayanan Tuhan (khususnya murid-murid pertama ini). Tuhan memanggil atas hubungan darah dan pekerjaan yang sama agar mempermudah mereka di dalam pelayanan bersama dengan Tuhan. Pekerjaan mereka sebagai penjala ikan yang membutuhkan kesabaran akan mempermudah mereka kedepannya untuk mencari dan menyelamatkan jiwa-jiwa yang berdosa (lih. Ay. 17 bnd. Luk 5:1-11 penjala ikan menjadi penjala manusia).

Menjadi murid-murid dan mengikuti Tuhan, juga membutuhkan pengorbanan dan kerelaan hati untuk setia mengikuti-Nya (lih. Ay 20). Tuhan Yesus menghendaki agar kita merespon kehendak Allah dalam kehidupan kita, bukan mengabaikan-Nya bahkan meninggalkan-Nya. Para murid yang dipanggil-Nya bukanlah dari kalangan masyarakat kelas atas atau mereka yang memiliki status sosial yang terpandang, bahkan mereka adalah manusia berdosa (bnd. Luk 5:8.Pengakuan Simon bahwa dirinya berdosa). Merupakan bukti akan kasih setia Allah yang sempurna dan tidak terbatas dan dibatasi oleh siapapun dan apapun di dunia ini. Jadi marilah kita merespon panggilan Allah dan seruannya agar kita bertobat dan percaya, dengan demikian kita memperoleh keselamatan dan hidup yang kekal. Imanuel. Amin.

Diposkan Oleh Admin Renungan Harian Almanak Nas GKE

Jumat, 04 Oktober 2013

Keselamatan dan Kasih Karunia Allah tidak Dapat Diperjual belikan

Jumat, 4 Oktober 2013
KESELAMATAN DAN KASIH KARUNIA ALLAH TIDAK DAPAT DIPERJUAL BELIKAN...!!
Kisah Rasul 8:4-25
Oleh : Pdt . Telhalia G.Ambung, MTh.

Secara tidak langsung ada beberapa orang menganggap keselamatan dapat digadaikan atau diperjual belikan. Mengapa karena alasan uang, harta kekayaan, jabatan atau alasan cinta seseorang mampu melakukannya ? lalu apa komentar orang-orang terhadap mereka ini ? sungguh sangat disayangkan, namun bagi orang-orang yang berpikir sebaliknya adalah hal yang menguntungkan.

Saat pekabaran Injil menyebar luas ke berbagai tempat termasuk samaria (penduduknya adalah bangsa Yahudi yang melakukan perkawinan campuran/dengan bangsa lain sehingga mereka dianggap kafir). Di kota Samaria ini banyak orang-orang bertobat dan menjadi percaya kepada Yesus, atas pemberitaan dan mujizat Filipus (lih. Ay 5-8). Namun dibalik banyaknya pertobatan itu, masih ada orang yang dengan sengaja memanfaatkan keadaan dan kesempatan untuk mencari keuntungan diri sendiri. Salah satunya seseorang yang bernama Simon , seorang ahli sihir yang juga ikut bertobat, bahkan dia mengikuti Filipus dan selalu bersama-sama dengannya (lih ay 9 &13). Namun sayang pertobatan tersebut berdasarkan rasa kagum atau takjub akibat dari tindakan Filipus dan terutama tindakan yang dilakukan oleh Petrus dan Yohanes pada saat menumpangkan tangan atas orang-orang dan kuasa Roh Kudus turun atas mereka semua (ay. 17). Sehingga memunculkan pikiran Simon untuk bisa melakukannya dan secara tidak langsung mendapat keuntungan dari kuasa tersebut dengan cara imbalan/uang dan lebih buruk lagi Simon berpikir ia dapat membeli karunia Allah dengan uangnya (lih. Ay 18-20).

Ironis memang jika ada orang Kristen melakukan hal yang demikian. Menganggap keselamatan dan karunia Allah sebagai bisnis dan iman bisa diperjual belikan hanya untuk kesenangan, kepuasan dan kebahagian diri yang sebenarnya semu dan sementara di dunia ini…bukankah kita semua akan mati & semua orang mempertanggung jawabkan segala perbuatannya di pengadilan Allah ? sungguh sangat disayangkan bukan ? ah mungkin ada yang berkomentar justru kesenangan dunia ini yang harus terlebih dulu dicari dan dinikmati, nantilah urusan sorgawi, kalau sudah tua atau sakit-sakitan ! hanya persoalannya, adakah di antara kita yang bisa mengetahui dengan sangat tepat tentang masa depan atau hari esoknya ? bisa saja kan detik ini kita baik-baik saja, namun pada detik berikutnya serangan jatung, celaka atau meninggal secara tiba-tiba ?

Kita diingatkan oleh Petrus , bahwa apabila keselamatan dan karunia Allah diperjual belikan maka kita akan dapat binasa bersama uang yang kita miliki dan kita tidak akan pernah mendapat bagian atau hak atas keselamatan dan karunia Allah, sebab hati telah bengkok dan tidak lagi lurus kepada Allah (lih. Ay 20-21). Namun Petrus juga mengingatkan agar segera bertobat dari segala kejahatan dan senantiasa berdoa supaya Allah mengampuni dosa-dosa yang kita lakukan (lih. Ay 22).

Pada bagian lainnya, perlu diwaspadai dengan pikiran, perasaan dan indra mata kita untuk melihat kebenaran dengan sebaik-baiknya yaitu dengan cara meneliti terlebih dahulu sejauh mana setiap kejadian terlebih-lebih tentang keselamatan atau mujizat-mujzat yang mengatas namakan apa saja terutama nama Yesus agar kita tidak turut disesatkan. Hal itu lah yang dilakukan oleh rasul-rasul di Yerusalem dengan mengutus Petrus dan Yohenes untuk melihat fakta yang sesunggungnya (ay 14). Bahkan Tuhan Yesus pernah berpesan agar para muridNya dan yang telah percaya kepadaNya agar selalu waspada….sebab menjelang akhir jaman banyak nabi dan mesias palsu bermunculan dan melakukan mujizat dan tanda-tanda sehingga menyesatkan banyak orang padahal mereka melakukannya semua demi keuntungan diri sendiri dan iblis yang bekerja dalam diri mereka (bnd. Matius 24:23-26, Mrk 13:21-23). Namun jika penginjilan itu memang benar maka sebagai orang beriman kita patut mendukung dan berdoa untuk mereka seperti yang dilakukan oleh Petrus dan Yohanes (ay. 16-17 & 25). Sehingga banyak jiwa diselamatkan dan hidup yang kekal. Imanuel. Amin.

Diposkan Oleh Admin Renungan Harian Almanak Nas GKE

Kamis, 03 Oktober 2013

Masih Adakah Waktu dan Kesempatan???

Kamis, 3 Oktober 2013
MASIH ADAKAH WAKTU DAN KESEMPATAN ???
Yehezkiel 33:1-20
Oleh : Pdt. Telhalia G.Ambung, MTh.

Ada anggapan bahwa tidak ada waktu dan kesempatan bagi orang jahat untuk bertobat dari segala kejahatannya, sekalipun itu ayah-anak, suami-istri, kakak-adik, teman, sahabat apalagi orang lain yang tidak ada hubungan apa-apa dengan kita. Sejauh ini mungkin saja pernyataan ini ada benarnya apa bila orang yang melakukan kejahatan diabaikan atau dibiarkan begitu saja alias tidak pernah ditegur atau dinasehati oleh siapapun. Artinya hidup kita dan mereka ada pembatas yang tidak boleh bersentuhan sama sekali, dalam hal ini kita benar dan suci sehingga tidak mau berbicara, tidak pernah mau menegur atau menasehati orang yang seharusnya memerlukan pertolongan agar dia menyadari kesalahannya dan bertobat.

Berbeda dengan cara pandang manusia, justru Allah selalu menginginkan setiap orang untuk bertobat dan selalu ada waktu dan kesempatan untuk itu sepanjang manusia masih bernafas….katakanlah kepada mereka : “demi aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup….(lih ay 11). Dari perkataan Allah ini, dapat disimpulkan betapa Allah begitu sangat mengasihi umatNya. Sekalipun manusia telah berbuat jahat atau dosa, namun semua itu tidak pernah diperhitungkanNya kembali jika manusia bertobat dari segala kejahatan dan hidup benar menurut kehendakNya. Allah menghendaki kehidupan kita sekarang dan ke depan bukan kehidupan ke belakang atau masa lalu seseorang. Sebab hal terpenting adalah pembaharuan hidup atau hidup baru di dalam Tuhan (bnd. Kehidupan dan pertobatan Paulus).

Dalam kenyataan hidup manusia, pertobatan tidak serta merta terjadi begitu saja. Perlu waktu dan proses yang terkadang bisa cepat atau lambat. Allah menggunakan bermacam cara agar manusia bertobat. Salah satunya melalui sesorang yang ditugaskan untuk itu. Dan dalam rangka memenuhi kehendak Allah, maka Yehezkiel di beri tugas yang sangat berat. Ia diberi tanggung jawab sebagai penjaga Israel dengan cara memperigatkan mereka agar mereka bertobat dan tidak lagi melakukan kejahatan. Konsekuensi dari tugas ini ada dua, yaitu jika tidak melaksanakan tugasnya maka Yehezkiel akan mati, dan jika bangsa itu tidak mau mendengar maka umat itu yang akan binasa (ay 7-9). Apapun resiko atau hasil akhir dari tugas Yehezkiel, intinya ia tetap harus menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Sungguh mengerikan bukan ? Yehezkiel maupun umat Israel sama-sama menanggung akibatnya, apabila mereka tidak mendengar dan melakukan perintah Allah.
Jadi apa yang dikehendaki Allah terhadap umat-Nya adalah mendengarkan-Nya dan melakukan perintah-Nya. Bukankah sebagai orang tua, kitapun merasa sangat bahagia, ketika anak yang kita kasihi mau mendengar dan melakukan apa yang kita inginkan ? dan bukankah pada umumnya setiap orang tua menghendaki kehidupan anak-anaknya berbahagia dan baik-baik saja ? demikian juga Allah kita. Pada saat Allah berseru agar umat Israel bertobat merupakan bentuk kasih setia Allah yang besar kepada umat-Nya, agar mereka tidak binasa. Dan kasih yang sempurna telah dibuktikan-Nya di dalam Tuhan Yesus yang mau berkorban mati di kayu salib agar kita tidak binasa melainkan memperolah hidup kekal. Imanuel, Amin.

Diposkan Oleh Admin Renungan Harian Almanak Nas GKE

Rabu, 02 Oktober 2013

ANTARA DOSA WARISAN DAN DOSA PERBUATAN

Rabu, 02 Oktober 2013
ANTARA DOSA WARISAN DAN DOSA PERBUATAN
Yehezkiel 18:1-32
Oleh : Pdt. Kristinus Unting, M.Div

Yehezkiel bernubuat menentang para pemimpin Israel, yaitu para raja, imam dan nabi. Karena keserakahan, korupsi, dan mementingkan diri sendiri, mereka telah lalai menuntun umat Allah sebagaimana dikehendaki oleh-Nya. Mereka memeras umat itu. Rupanya banyak orang Yahudi percaya bahwa mereka dihukum karena dosa-dosa para leluhur mereka dan karena itu Allah tidak adil; mereka tidak sadar bahwa dosa-dosa mereka sendiri lebih parah daripada dosa para leluhur itu. Yehezkiel 18:20 memberitahu kita, “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya” (Yehezkiel 18:20). Ayat ini jelas menunjukkan bahwa hukuman untuk dosa seseorang ditanggung oleh orang itu sendiri.

Pasal ini mengajarkan kebenaran dasar bahwa setiap orang bertanggung jawab kepada Allah atas hidupnya sendiri, dan bahwa setiap orang yang terus-menerus berbuat dosa akan mati secara rohani dan menderita hukuman kekal. Memang ada yang ayat yang mengakibatkan sebagian orang berpikir bahwa Alkitab seolah mengajarkan hukuman dosa lintas generasi, namun penafsiran demikian tidaklah benar. Ayat yang dipertanyakan tsb. adalah Keluaran 20:5 yang dalam hubungan dengan berhala mengatakan, “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku” (Keluaran 20:5). Sebenarnya ayat ini bukanlah mengenai hukuman, tapi mengenai konsekwensi.

Untuk hal ini, kita harus terlebih dahulu membedakan antara “dosa warisan” dan “dosa perbuatan”. Tentang “dosa warisan”, Kitab Kejadian 3 menjelaskan bahwa pemberontakan Adam dan Hawa melawan Allah dan perintah-perintahNya, sejak saat itu dosa diwariskan kepada semua generasi umat manusia dan kita, sebagai keturunan Adam, mewarisi dosa dari dia. Roma 5:12 memberitahukan bahwa melalui Adam dosa masuk ke dalam dunia dan kematian diwariskan kepada semua orang karena “upah dosa adalah maut” (Roma 6:23).

Ada sebagian orang menganggapnya bahwa “dosa warisan”sebagai hal yang tidak masuk akal. Karena kata mereka mana bisa kakek dan neneknya yang berdosa, cucu dan seluruh keturunannya terkena dosanya dan terus memikul hukuman dari dosa tersebut? Melalui Adam kecenderungan untuk berbuat dosa masuk ke dalam umat manusia dan manusia menjadi orang yang secara natur sudah berdosa. Ketika Adam berdosa naturnya diubah oleh dosa dan pemberontakannya mengakibatkan kematian secara rohani dan kejatuhan yang diwariskan pada semua yang lahir setelah dia.

Manusia menjadi orang-orang berdosa bukan karena mereka berbuat dosa, mereka berbuat dosa karena mereka adalah orang-orang berdosa. Inilah keadaan yang disebut sebagai dosa warisan. Sama seperti kita mewarisi karakteristik fisik dari orangtua kita, kita mewarisi natur dosa dari Adam. Karena itu, “dosa warisan” sebenarnya adalah suatu konsekwensi. Dengan kata lain bahwa konsekwensi dosa seseorang dapat dirasakan sampai beberapa generasi kemudian. Sama seperti kita mewarisi karakteristik fisik dari orangtua kita, kita mewarisi natur dosa dari Adam. Raja Daud meratapi natur kejatuhan manusia ini dalam Mazmur 51:7 “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.”

Allah memberitahu orang-orang Israel bahwa anak-anak mereka akan merasakan dampak dari generasi orangtua mereka sebagai konsekwensi alamiah ketidaktaatan dan sikap mereka yang membenci Allah. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan demikian akan mempraktekkan penyembahan berhala yang serupa, dan dengan demikian meneruskan pola ketidaktaatan yang sudah ada. Akibat dari generasi yang tidak taat adalah menanamkan kejahatan dengan begitu dalamnya sehingga akan memakan waktu beberapa generasi untuk memulihkannya. Allah tidak menuntut pertanggungjawaban kita untuk dosa-dosa orangtua kita, namun kadang kala kita menderita sebagai akibat dari dosa-dosa orangtua kita, sebagaimana yang digambarkan dalam Keluaran 20:5.

Sedangkan “dosa perbuatan”? “Dosa perbuatan” adalah dosa yang diperbuat oleh masing-masing pribadi, seperti dosa membunuh, mencuri, berzinah, dan lain sebagainya. Dosa perbuatan adalah tanggung jawab masing-masing pribadi. Dosa perbuatan seorang anak tidak akan ditanggung oleh orang tuanya. Dosa orang tuanya, tidak ditanggung oleh anaknya ataupun oleh cucunya. Hal tersebut dapat kita baca dalam Yehezkiel 18:20 : Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya.

Sebagian orang Israel menggunakan dalih yang sama untuk dosa-dosa mereka. Mereka mengutip amsal populer yang menimpakan kesalahan kepada para leluhur mereka (Yehezkiel 18:2). Namun, Allah menyalahkan mereka. Allah berfirman, orang baik tidak akan dihukum karena dosa anaknya yang jahat. Demikian juga anak baik tidak akan dihukum karena dosa ayahnya yang jahat. Apakah anak-anak dihukum karena dosa-dosa orangtua mereka? Anak-anak tidak dihukum untuk dosa yang dilakukan oleh orangtua mereka, demikian pula orangtua tidak dihukum untuk dosa dari anak-anak mereka. Setiap kita bertanggung jawab untuk dosa kita masing-masing.

Sebagaimana diperlihatkan dalam Yehezkiel 18:20, setiap kita bertanggungjawab untuk dosa kita masing-masing dan kita harus menanggung hukumannya. Kita tidak bisa membagikan kesalahan kita dengan orang lain, dan orang lain tidak bisa bertanggung jawab untuk itu. Hanya ada satu pengecualian pada aturan ini, dan itu berlaku untuk semua umat manusia. Satu orang menanggung dosa orang-orang lain dan membayar hukuman dosa bagi mereka sehingga orang-orang berdosa dapat menjadi benar dan suci di hadapan Allah. Orang itu adalah Yesus Kristus.

Allah mengutus Yesus Kristus ke dalam dunia untuk mengganti kesempurnaan-Nya dengan dosa kita. “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21). Yesus Kristus mengangkat hukuman dosa bagi mereka yang datang kepada-Nya dalam iman. Berhentilah mencari dalih bagi dosa-dosa Anda. Apakah ini karena ulah nenek/kakek atau ayah/ibu saya? Janganlah mengkambinghitamkan orang lain. Sebaliknya, akuilah kesalahan Anda kepada Allah dan terimalah pengampunan yang Dia tawarkan Itu adalah langkah pertama untuk melatih tanggung jawab pribadi Anda. Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang Anda lakukan. Amin!

Diposkan Oleh Admin Renungan Harian Almanak Nas GKE

Selasa, 01 Oktober 2013

Dosa itu Bagaikan Racun yang Mematikan

Selasa, 01 Oktober 2013
DOSA ITU BAGAIKAN RACUN YANG MEMATIKAN!
Yeremia 25:1-14
Oleh : Pdt. Kristinus Unting

Dua puluh tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun itulah kurun waktu Nabi Yeremia menyampaikan teguran Tuhan kepada bangsanya. Tentu saja pekerjaan tersebut bukanlah suatu pe kerjaan yang mudah dan menyenangkan, sebab pada umumnya kebanyakan orang tak suka ditegur. Bangsanya harus ditegur agar bertobat dan tak binasa! Ajaran Yeremia yang utama ialah bahwa tidaklah cukup hanya mengetahui dosa-dosa kita atau bahkan menyesalinya saja. Pertobatanlah yang dituntut oleh Allah. Namun tegoran tersebut tak diindahkan!

Atas sikap mereka firman Tuhan katakana: “Sesungguhnya, Aku akan mengerahkan semua kaum dari utara–demikianlah firman TUHAN–menyuruh memanggil Nebukadnezar, raja Babel, hamba-Ku itu; Aku akan mendatangkan mereka melawan negeri ini, melawan penduduknya dan melawan bangsa-bangsa sekeliling ini, yang akan Kutumpas dan Kubuat menjadi kengerian, menjadi sasaran suitan dan menjadi ketandusan untuk selama-lamanya. Aku akan melenyapkan dari antara mereka suara kegirangan dan suara sukacita, suara pengantin laki-laki dan pengantin perempuan, bunyi batu kilangan dan cahaya pelita. Maka seluruh negeri ini akan menjadi reruntuhan dan ketandusan, dan bangsa-bangsa ini akan menjadi hamba kepada raja Babel tujuh puluh tahun lamanya.” (ay.9-11).

Setiap dosa pasti akan mendapat ganjaran dari Allah. Dengan cara-Nya sendiri dan dalam waktu-Nya, hukuman Allah akan datang menimpa. Allah tidak pernah lupa dan tidak akan mendiamkan dosa. Kegagalan serta berbagai ketidaktaatan Israel tentulah tidak menyenangkan hati Tuhan. Kita harus paham bahwa Allah yang menyertai kita adalah Allah yang kudus. Namun kiranya bukan sekadar takut hukuman maka kita tidak melakukan dosa. Dalam segala kegagalan kita menaati Tuhan, kita pun akan menemui berbagai kesulitan sebagai buah dari kegagalan tersebut.

Tuhan tidak begitu saja mengangkat kesulitan dari jalan hidup kita karena Ia ingin kita mengingat betapa pentingnya belajar taat dan betapa kelirunya menyimpang dari jalan Tuhan. Kemarahan Allah memperlihatkan ketidaksukaan-Nya terhadap dosa dan bila umat tidak menjadikan Dia sebagai Allah satu-satunya. Penghukuman Tuhan tentu saja hanya bersifat sementara. Tidak untuk selamanya, jika kita sungguh-sungguh mau bertobat. Kecuali bagi yang tidak pernah mau bertobat. Karena setelah masa penghukuman selesai, mereka akan dipulihkan dan diterima lagi sebagai umat kesayangan Allah.
Allah mendidik kita sebagai Bapa yang penuh kasih kepada anak-anak-Nya. Didikan-Nya sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyakiti atau menghancurkan kita. Didikan-Nya justru dimaksudkan demi kebaikan dan pembentukan kita. Dia menuntun kita untuk menjauhi jalan-jalan yang tidak terpuji, dan mengajari kita untuk hidup di dalam kebenaran. Jika kita mau mengalami penyertaan Allah, kita harus sungguh-sungguh dalam pertobatan, hidup kudus dan menaati Dia. Amin!

Diposkan Oleh Admin Renungan Harian Almanak Nas GKE